{"id":1815,"date":"2016-07-31T22:12:55","date_gmt":"2016-07-31T14:12:55","guid":{"rendered":"http:\/\/www.farmasi.asia\/?p=1815"},"modified":"2016-07-31T22:12:55","modified_gmt":"2016-07-31T14:12:55","slug":"ajak-investasi-bkpm-indonesia-undang-perusahaan-farmasi-asal-jerman","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/apoteker.net\/blog\/ajak-investasi-bkpm-indonesia-undang-perusahaan-farmasi-asal-jerman\/","title":{"rendered":"Ajak Investasi, BKPM Indonesia Undang Perusahaan Farmasi Asal Jerman"},"content":{"rendered":"<p>Ada yang pernah mendengar BKPM? Penanaman Modal? Investasi? Modal Asing? Apa sih kepanjangan dari BKPM? BKPM merupakan kependekan dari Badan Koordinasi Penanaman Modal berbentuk instansi pelayanan penanaman kapital non departemen yang bertujuan untuk menegakkan\/menjalankan penegakan hukum terkait penanaman modal baik itu non asing ataupun dari asing di Indonesia. Karena bukan departemen, sehingga badan ini langsung bergerak di bawah perintah presiden; seperti halnya Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Republik Indonesia.<\/p>\n<p>Badan Koordinasi Penanaman Modal menuturkan untuk mengajak\u00a0perusahaan-perusahaan farmasi asal Jerman untuk menanamkan dan berinvestasi di pasar Indonesia. Badan Koordinasi Penanaman Modal berniat untuk mengundang produsen farmasi di Jerman untuk kembali menanam modalnya ke Indonesia, baik yang memperbesar nilai investasi dari yang sudah dikerjakan sebelumnya ataupun mengambil investasi yang benar-benar baru.<\/p>\n<p><img decoding=\"async\" class=\"alignnone size-full wp-image-1816\" src=\"https:\/\/i0.wp.com\/apoteker.net\/blog\/wp-content\/uploads\/2016\/07\/Investasi-Farmasi-Indonesia.jpg?resize=500%2C300&#038;ssl=1\" alt=\"Investasi Farmasi Indonesia\" width=\"500\" height=\"300\" data-recalc-dims=\"1\" \/><\/p>\n<p>Mengapa Jerman? Saat ini, Jerman adalah investor terbesar nomor 4 di dunia untuk sektor atau bidang farmasi dan obat-obatan dengan nilai investasi mencapai 4 miliar Dolar Amerika lebih.\u00a0BKPM memiliki keyakinan akan\u00a0potensi dan peluang pangsa pasar farmasi di Indonesia yang terbilang cukup\u00a0besar. Diperikirakan di tahun 2018 mendatang,\u00a0market\u00a0farmasi di Indonesia memiliki potensi untuk\u00a0berkembang hingga\u00a02x\u00a0lebih besar dari tahun sebelumnya.\u00a0Di sisi lain,\u00a0dana kesehatan yang dikeluarkan per kapita naik meskipun masih belum sebesar negara tetangga.<\/p>\n<p>Kebijakan\u00a0<span class=\"s1\"><strong><a href=\"https:\/\/www.bkpm.go.id\/\" target=\"_blank\">penanaman modal asing bkpm<\/a><\/strong> dari\u00a0<\/span>pemerintah saat ini untuk sektor industri farmasi terutama BBO (Bahan Baku Obat) bisa dimiliki asing 100%. Sebelumnya hanya 85%. Kebijakan ini diambil dengan harapan agar mampu menciptakan daya saing para investor di lini industri farmasi.\u00a0Di samping\u00a0itu, dengan adanya investasi ini, pemerintah berharap investor juga akan melirik sektor obat jadi (bukan hanya bahan baku-nya saja).<\/p>\n<p>Jika berjalan lancar, para produsen akan menjadi lebih leluasa dalam menentukan harga dalam memilih bahan baku. Hal ini juga akan menurunkan angka impor BBO untuk pembuatan obat jadi. Selama ini, kebanyakan perusahaan industri obat jadi mengimpor bahan baku obat dari India dan Cina. Jika di Indonesia memiliki industri bahan baku obat tersendiri, tentu harga obat-obatan bisa ditekan karena secara teori, harga impor lebih mahal karena berkaitan dengan kurs dolar terhadap rupiah yang cenderung tidak stabil.<\/p>\n<p>Tidak hanya Jerman, negeri tirai bambu Cina juga tertarik untuk memberikan dananya sebagai modal investasi di sektor Farmasi. Banyak pengamat mengatakan bahwa sektor kesehatan terutama bahan kimia dan farmasi memiliki potensi yang bagus sebagai investasi.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"","protected":false},"author":12,"featured_media":1816,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jetpack_post_was_ever_published":false,"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":""},"categories":[226],"tags":[],"class_list":["post-1815","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news"],"aioseo_notices":[],"jetpack_sharing_enabled":true,"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/apoteker.net\/blog\/wp-content\/uploads\/2016\/07\/Investasi-Farmasi-Indonesia.jpg?fit=500%2C300&ssl=1","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/apoteker.net\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1815","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/apoteker.net\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/apoteker.net\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/apoteker.net\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/users\/12"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/apoteker.net\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1815"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/apoteker.net\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1815\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/apoteker.net\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media\/1816"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/apoteker.net\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1815"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/apoteker.net\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1815"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/apoteker.net\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1815"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}