{"id":3320,"date":"2019-03-08T10:54:24","date_gmt":"2019-03-08T02:54:24","guid":{"rendered":"https:\/\/www.farmasi.asia\/?p=3320"},"modified":"2019-03-13T12:12:43","modified_gmt":"2019-03-13T04:12:43","slug":"apoteker-tidak-hanya-belajar-dari-seminar","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/apoteker.net\/blog\/apoteker-tidak-hanya-belajar-dari-seminar\/","title":{"rendered":"Apoteker Tidak Hanya Belajar dari Seminar"},"content":{"rendered":"<p><strong>Apoteker.Net<\/strong> &#8211; Setelah lulus kuliah program studi profesi apoteker. Bukan berarti selesai pembelajaran yang dialami. Tidak. Materi dan pengalaman yang diajarkan semasa perkuliahan dan praktik kerja hanya sekelumit dari berlimpahnya ilmu dan pengalaman di dunia kerja. Maka dari itu, seorang apoteker tetap belajar dari hari ke hari.<\/p>\n<p>Berpraktik sambil belajar. Mungkin, satu kalimat itu mampu mewakili agar apoteker mau meningkatkan kemampuannya. Pada saat kuliah, mungkin belajar sambil berpraktik. Dipelajari terlebih dahulu kemudian dipraktikkan pada saat praktik kerja. Sebaliknya, saat sudah bekerja. Ketika berpraktik ada menemukan berbagai pelajaran yang akan membuat seorang apoteker untuk belajar.<\/p>\n<p>Selain belajar saat berpraktik, Ikatan Apoteker Indonesia (IAI) pun memfasilitasi dan meminta semua apoteker untuk menjalankan pendidikan berkelanjutan apoteker indonesia. Tertuang pada Peraturan Organisasi tahun 2014 tentang Pedoman Pendidikan Berkelanjutan Apoteker Indonesia. Pada pedoman tersebut dijelaskan bahwa seorang apoteker harus memenuhi Satuan Kredit Partisipasi atau biasa lebih dikenal dengan istilah SKP. SKP yang akan menjadi bukti autentik bahwa seorang apoteker menjalankan pendidikan berkelanjutan. IAI menetapkan 150 poin SKP selama 5 tahun atau jika dibagi rata menjadi 30 poin SKP setiap tahun. Ada 3 domain utama yang harus dipenuhi agar bisa mencapai target SKP antara lain:<\/p>\n<ol>\n<li>Kinerja Praktik Profesional<\/li>\n<li>Kinerja Pembelajaran<\/li>\n<li>Kinerja Pengabdian Profesi<\/li>\n<\/ol>\n<p>Pada domain kedua pihak IAI meminta kinerja pembelajaran yang bermakna segala sesuatu kegiatan yang dilakukan oleh apoteker untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan selama menjalankan praktik kefarmasian.<\/p>\n<p>Namun, sangat disayangkan domain kedua tersebut diartikan sempit oleh sebagian apoteker. Mereka memaknai dengan cara ikut seminar. Berbagai seminar baik diselenggarakan IAI maupun kampus yang memiliki bobot SKP mereka ikuti. Dilain sisi, ada juga apoteker yang mengkritisi dengan mahalnya biaya pendaftaran untuk mengikuti seminar\u2013seminar yang ada.<\/p>\n<p>Padahal, tidak hanya lewat seminar apoteker belajar. Seminar hanya salah satu dari berbagai kegiatan untuk melakukan pembelajaran. Pedoman Pendidikan Berkelanjutan Apoteker Indonesia menjelaskan bahwa kegiatan yang bisa dilakukan untuk pembelajaran antara lain: seminar, workshop, pelatihan, membaca artikel di jurnal, menelusuri informasi ataupun uji mandiri, diskusi peer grup, diskusi kefarmasian bersama pakar.<\/p>\n<blockquote class=\"td_quote_box td_box_center\"><p>Mengapa selama ini sebagian apoteker fokus pada seminar agar bisa belajar dan memperoleh poin SKP?<\/p><\/blockquote>\n<p>Nampaknya budaya membaca artikel di jurnal, budaya menulusuri informasi dan diskusi peer grup masih minim ada di tubuh seorang apoteker. Karena belum terbiasa itulah mereka lebih mudah hanya mengikuti seminar. Dengan alasan lewat seminar bisa meng-<em>update<\/em> informasi terbaru.<\/p>\n<div id=\"ez-toc-container\" class=\"ez-toc-v2_0_82_2 counter-hierarchy ez-toc-counter ez-toc-grey ez-toc-container-direction\">\n<div class=\"ez-toc-title-container\">\n<p class=\"ez-toc-title\" style=\"cursor:inherit\">Daftar Isi<\/p>\n<span class=\"ez-toc-title-toggle\"><a href=\"#\" class=\"ez-toc-pull-right ez-toc-btn ez-toc-btn-xs ez-toc-btn-default ez-toc-toggle\" aria-label=\"Toggle Table of Content\"><span class=\"ez-toc-js-icon-con\"><span class=\"\"><span class=\"eztoc-hide\" style=\"display:none;\">Toggle<\/span><span class=\"ez-toc-icon-toggle-span\"><svg style=\"fill: #999;color:#999\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" class=\"list-377408\" width=\"20px\" height=\"20px\" viewBox=\"0 0 24 24\" fill=\"none\"><path d=\"M6 6H4v2h2V6zm14 0H8v2h12V6zM4 11h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2zM4 16h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2z\" fill=\"currentColor\"><\/path><\/svg><svg style=\"fill: #999;color:#999\" class=\"arrow-unsorted-368013\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" width=\"10px\" height=\"10px\" viewBox=\"0 0 24 24\" version=\"1.2\" baseProfile=\"tiny\"><path d=\"M18.2 9.3l-6.2-6.3-6.2 6.3c-.2.2-.3.4-.3.7s.1.5.3.7c.2.2.4.3.7.3h11c.3 0 .5-.1.7-.3.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7zM5.8 14.7l6.2 6.3 6.2-6.3c.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7c-.2-.2-.4-.3-.7-.3h-11c-.3 0-.5.1-.7.3-.2.2-.3.5-.3.7s.1.5.3.7z\"\/><\/svg><\/span><\/span><\/span><\/a><\/span><\/div>\n<nav><ul class='ez-toc-list ez-toc-list-level-1 ' ><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-1\" href=\"https:\/\/apoteker.net\/blog\/apoteker-tidak-hanya-belajar-dari-seminar\/#Membaca_Artikel_di_Jurnal\" >Membaca Artikel di Jurnal<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-2\" href=\"https:\/\/apoteker.net\/blog\/apoteker-tidak-hanya-belajar-dari-seminar\/#Menelusuri_informasi\" >Menelusuri informasi<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-3\" href=\"https:\/\/apoteker.net\/blog\/apoteker-tidak-hanya-belajar-dari-seminar\/#Diskusi_Peer_Group\" >Diskusi Peer Group<\/a><\/li><\/ul><\/nav><\/div>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Membaca_Artikel_di_Jurnal\"><\/span>Membaca Artikel di Jurnal<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Pembiasaan ini seharus sudah bisa dimulai pelan-pelan dari personal apoteker. Sebab, di era teknologi dan informasi yang bertebaran ini. Semua orang bisa mengakses jurnal dimana pun dan kapan pun. Baik itu jurnal berbayar ataupun jurnal gratis. Kini, kembali ke pribadi apoteker sendiri. Maukah dia membiasakan diri untuk membaca artikel di jurnal ataukah tetap seperti biasa tak ada sedikitpun perubahan di dalam dirinya? Misalnya, dengan membiasakan diri membaca satu jurnal dalam satu minggu. Jika masih kesulitan maka membaca satu jurnal dalam satu bulan.<\/p>\n<p>Perkembangan ilmu pengetahuan akan lebih cepat diperoleh lewat jurnal sebab jurnal dengan tingkatan meta analisis atau sistematik <em>review<\/em> merupakan sumber pustaka primer. Jika hanya berharap pada buku. Kita harus menunggu lama, ditulis, direvisi kemudian dicetak. Sehingga, lewat membiasakan diri membaca artikel di jurnal kita bisa lebih mudah meng-<em>update<\/em> informasi dan ilmu pengetahuan dalam bidang kefarmasian.<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Menelusuri_informasi\"><\/span>Menelusuri informasi<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Cara ini juga hampir sama dengan membaca jurnal tapi informasi tersebut kita telusuri lewat website-website ataupun buku-buku terbaru. Saat menemukan kasus di tempat praktik maka langsung mencari solusi dengan menelusuri berbagai informasi. Dalam kalimat singkat, carilah jawaban saat kita menemukan hal-hal yang belum kita ketahui ataupun kasus ketika berpraktik. Hal ini pun akan membantu apoteker untuk selalu belajar dari berbagai pertanyaan atau kasus yang belum terselesaikan.<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Diskusi_Peer_Group\"><\/span>Diskusi Peer Group<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Budaya satu ini pun sepertinya masih minim. Padahal, dengan cara berdiskusi. Kita secara tidak langsung meningkatkan berbagai kompetensi di dalam diri yang selama ini tak disadari. Pola berpikir, cara berbicara, cara menyampaikan pendapat, menjadi seorang pendengar yang baik, mengasah komunikasi antar sejawat dan berbagai kompetensi lainnya yang sangat diperlukan saat berpraktik kelak.<\/p>\n<p>Padahal, Indonesia memiliki budaya senang berbicara tapi belum terbiasa berdiskusi. Mungkin, ini juga PR bagi apoteker ataupun IAI agar bisa membudayakan berdiskusi antar sesama apoteker.<\/p>\n<p>Terbukti, tidak hanya lewat seminar seorang apoteker belajar. Banyak cara belajar yang bisa dilakukan oleh seorang apoteker. Hanya saja budaya pembelajaran selain seminar masih minim dilakukan sehingga masih terlihat asing di mata apoteker.<\/p>\n<p>Apoteker dituntut untuk selalu belajar karna apoteker adalah seorang <em>long life learner<\/em>. Seorang pembelajar sepanjang hidup. Tak ada satu hari pun dilewatkan tanpa belajar. Begitulah prinsip seorang pembelajar sejati. Dia tak akan mengenal kata berhenti. Sebelum raga ini telah mati.<\/p>\n<p>Apoteker belajar pun bukan karena tuntutan SKP. Tetapi, karena kesadaran diri untuk meningkatkan kemampuan diri. Menjadikan diri lebih baik dari hari ke hari. Sebagai sarana ibadah yang berujung pada jannah.<\/p>\n<blockquote class=\"td_quote_box td_box_center\"><p>Hari ini harus lebih baik dari kemarin. Besok harus lebih baik dari hari ini<\/p><\/blockquote>\n<p>Bukankah hanya ada tiga golongan orang yang ada di dunia ini?<\/p>\n<ol>\n<li>Golongan orang yang rugi yaitu orang yang hari ini sama dengan kemarin<\/li>\n<li>Golongan orang yang celaka yaitu orang yang hari ini lebih buruk dari kemarin<\/li>\n<li>Golongan orang yang beruntung yaitu orang yang hari ini lebih baik dari kemarin<\/li>\n<\/ol>\n<p>Masuk golongan manakah kita? Sebagai apoteker yang harus terus belajar dan belajar tanpa henti.<\/p>\n<figure id=\"attachment_3322\" aria-describedby=\"caption-attachment-3322\" style=\"width: 494px\" class=\"wp-caption alignnone\"><a href=\"https:\/\/i0.wp.com\/apoteker.net\/blog\/wp-content\/uploads\/2019\/03\/Apoteker-Aulia-Rahim.jpg?ssl=1\"><img decoding=\"async\" class=\"size-full wp-image-3322\" src=\"https:\/\/i0.wp.com\/apoteker.net\/blog\/wp-content\/uploads\/2019\/03\/Apoteker-Aulia-Rahim.jpg?resize=504%2C261&#038;ssl=1\" alt=\"Apoteker Aulia Rahim\" width=\"504\" height=\"261\" data-recalc-dims=\"1\" \/><\/a><figcaption id=\"caption-attachment-3322\" class=\"wp-caption-text\">Aulia Rahim, M.Farm.,Apt.<\/figcaption><\/figure>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"","protected":false},"author":15,"featured_media":3325,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jetpack_post_was_ever_published":false,"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[23],"class_list":["post-3320","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-opini-farmasis-apoteker","tag-apoteker"],"aioseo_notices":[],"jetpack_sharing_enabled":true,"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/apoteker.net\/blog\/wp-content\/uploads\/2019\/03\/Apoteker-Belajar-Tidak-Hanya-dari-Seminar.jpg?fit=720%2C405&ssl=1","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/apoteker.net\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3320","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/apoteker.net\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/apoteker.net\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/apoteker.net\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/users\/15"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/apoteker.net\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=3320"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/apoteker.net\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3320\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/apoteker.net\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media\/3325"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/apoteker.net\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=3320"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/apoteker.net\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=3320"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/apoteker.net\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=3320"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}