{"id":3730,"date":"2022-12-29T12:32:15","date_gmt":"2022-12-29T04:32:15","guid":{"rendered":"http:\/\/localhost\/artikelpintar\/?p=1034"},"modified":"2023-02-24T12:20:34","modified_gmt":"2023-02-24T04:20:34","slug":"1-8-obat-yang-mempengaruhi-sekresi-usus","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/apoteker.net\/blog\/1-8-obat-yang-mempengaruhi-sekresi-usus\/","title":{"rendered":"Obat yang Mempengaruhi Sekresi Usus"},"content":{"rendered":"<div id=\"ez-toc-container\" class=\"ez-toc-v2_0_82_2 counter-hierarchy ez-toc-counter ez-toc-grey ez-toc-container-direction\">\n<div class=\"ez-toc-title-container\">\n<p class=\"ez-toc-title\" style=\"cursor:inherit\">Daftar Isi<\/p>\n<span class=\"ez-toc-title-toggle\"><a href=\"#\" class=\"ez-toc-pull-right ez-toc-btn ez-toc-btn-xs ez-toc-btn-default ez-toc-toggle\" aria-label=\"Toggle Table of Content\"><span class=\"ez-toc-js-icon-con\"><span class=\"\"><span class=\"eztoc-hide\" style=\"display:none;\">Toggle<\/span><span class=\"ez-toc-icon-toggle-span\"><svg style=\"fill: #999;color:#999\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" class=\"list-377408\" width=\"20px\" height=\"20px\" viewBox=\"0 0 24 24\" fill=\"none\"><path d=\"M6 6H4v2h2V6zm14 0H8v2h12V6zM4 11h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2zM4 16h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2z\" fill=\"currentColor\"><\/path><\/svg><svg style=\"fill: #999;color:#999\" class=\"arrow-unsorted-368013\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" width=\"10px\" height=\"10px\" viewBox=\"0 0 24 24\" version=\"1.2\" baseProfile=\"tiny\"><path d=\"M18.2 9.3l-6.2-6.3-6.2 6.3c-.2.2-.3.4-.3.7s.1.5.3.7c.2.2.4.3.7.3h11c.3 0 .5-.1.7-.3.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7zM5.8 14.7l6.2 6.3 6.2-6.3c.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7c-.2-.2-.4-.3-.7-.3h-11c-.3 0-.5.1-.7.3-.2.2-.3.5-.3.7s.1.5.3.7z\"\/><\/svg><\/span><\/span><\/span><\/a><\/span><\/div>\n<nav><ul class='ez-toc-list ez-toc-list-level-1 ' ><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-1\" href=\"https:\/\/apoteker.net\/blog\/1-8-obat-yang-mempengaruhi-sekresi-usus\/#181_Obat_yang_mempengaruhi_komposisi_dan_aliran_empedu\" >1.8.1 Obat yang mempengaruhi komposisi dan aliran empedu<\/a><ul class='ez-toc-list-level-3' ><li class='ez-toc-heading-level-3'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-2\" href=\"https:\/\/apoteker.net\/blog\/1-8-obat-yang-mempengaruhi-sekresi-usus\/#ASAM_KENODEOKSIKOLAT\" >ASAM KENODEOKSIKOLAT<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-3'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-3\" href=\"https:\/\/apoteker.net\/blog\/1-8-obat-yang-mempengaruhi-sekresi-usus\/#ASAM_URSODEOKSIKOLAT\" >ASAM URSODEOKSIKOLAT<\/a><\/li><\/ul><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-4\" href=\"https:\/\/apoteker.net\/blog\/1-8-obat-yang-mempengaruhi-sekresi-usus\/#182_Pengikat_asam_empedu\" >1.8.2 Pengikat asam empedu<\/a><ul class='ez-toc-list-level-3' ><li class='ez-toc-heading-level-3'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-5\" href=\"https:\/\/apoteker.net\/blog\/1-8-obat-yang-mempengaruhi-sekresi-usus\/#KOLESTIRAMIN_RESIN_PENUKAR_ANION\" >KOLESTIRAMIN (RESIN PENUKAR ANION)<\/a><\/li><\/ul><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-6\" href=\"https:\/\/apoteker.net\/blog\/1-8-obat-yang-mempengaruhi-sekresi-usus\/#183_Pankreatin\" >1.8.3 Pankreatin<\/a><ul class='ez-toc-list-level-3' ><li class='ez-toc-heading-level-3'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-7\" href=\"https:\/\/apoteker.net\/blog\/1-8-obat-yang-mempengaruhi-sekresi-usus\/#PANKREATIN\" >PANKREATIN<\/a><\/li><\/ul><\/li><\/ul><\/nav><\/div>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"181_Obat_yang_mempengaruhi_komposisi_dan_aliran_empedu\"><\/span>1.8.1 Obat yang mempengaruhi komposisi dan aliran empedu<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p><strong>Apoteker.Net<\/strong> &#8211; Batu empedu merupakan penyakit yang terjadi di saluran atau kandung empedu. Faktor pencetusnya meliputi hiperkolesterolemia, penyumbatan saluran empedu, dan radang saluran empedu. Berdasarkan komposisi kimianya, batu empedu dibedakan menjadi batu kolesterol atau batu kalsium bilirubinat.<\/p>\n<p>Penggunaan teknik laparoskopi dan endoskopi telah membatasi penggunaan obat pada penyakit batu empedu. Terapi obat sesuai untuk pasien yang tidak dapat diobati dengan cara lain, yang gejalanya ringan, fungsi kandung empedu tidak terganggu dan ukuran batu empedu radiolusen kecil sampai sedang. Terapi obat tidak sesuai untuk batu yang radio-opak, yang tidak dapat larut. Pasien sebaiknya diberi nasehat tentang upaya diet yang sesuai (termasuk menghindari kolesterol dan kalori berlebihan) dan mereka memerlukan pemantauan radiologi. Pencegahan jangka panjang mungkin diperlukan setelah batu empedunya larut dengan sempurna, karena batu empedu dapat terbentuk kembali sampai dengan 25% pasien dalam satu tahun setelah obat dihentikan.<\/p>\n<p>Obat yang sering digunakan untuk membantu melarutkan batu empedu adalah asam kenodeoksikolat dan asam ursodeoksikolat, yang bekerja mengurangi penjenuhan kolesterol empedu dengan cara mengurangi sekresi kolesterol dan meningkatkan sekresi asam empedu.<\/p>\n<p>Asam ursodeoksikolat juga digunakan pada sirosis empedu primer, pemeriksaan hepar membaik pada kebanyakan pasien namun manfaat secara keseluruhan belum dapat dipastikan.<\/p>\n<p><strong>Monografi<\/strong><\/p>\n<h3><span class=\"ez-toc-section\" id=\"ASAM_KENODEOKSIKOLAT\"><\/span>ASAM KENODEOKSIKOLAT<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h3>\n<p><strong>Indikasi<\/strong>:<br \/>\npelarutan batu empedu<\/p>\n<p><strong>Peringatan<\/strong>:<br \/>\nlihat keterangan di atas<\/p>\n<p><strong>Kontraindikasi<\/strong>:<br \/>\nbatu radio-opak, kehamilan (lihat Lampiran 2: kontrasepsi bukan hormonal harus digunakan oleh perempuan usia produktif), kandung empedu tidak berfungsi, penyakit hati kronik, penyakit radang dan kondisi lain dari usus halus dan kolon yang mengganggu entero-hepatik garam-garam empedu.<\/p>\n<p><strong>Efek Samping<\/strong>:<br \/>\ndiare terutama pada dosis awal yang tinggi (kurangi dosis selama beberapa hari), gatal-gatal, gangguan hati ringan dan transaminase serum naik sementara.<\/p>\n<p><strong>Dosis<\/strong>:<br \/>\n10-15 mg\/kg bb\/hari sebagai dosis tunggal menjelang tidur malam dan dalam dosis terbagi selama 3-24 bulan (bergantung pada besarnya batu). Pengobatan diteruskan paling tidak selama 3 bulan setelah batunya melarut. Dianjurkan melakukan diet kolesterol rendah (meningkatkan laju pelarutan batu empedu sampai 2 kali lipat).<\/p>\n<h3><span class=\"ez-toc-section\" id=\"ASAM_URSODEOKSIKOLAT\"><\/span>ASAM URSODEOKSIKOLAT<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h3>\n<p><strong>Indikasi<\/strong>:<br \/>\npelarutan batu empedu, sirosis empedu primer<\/p>\n<p><strong>Peringatan<\/strong>:<br \/>\nlihat keterangan di atas<\/p>\n<p><strong>Interaksi<\/strong>:<br \/>\nLampiran 1 (Asam Ursodeoksikolat)<\/p>\n<p><strong>Kontraindikasi<\/strong>:<br \/>\nbatu radio-opak, batu kolesterol yang mengalami kalsifikasi, batu radiolusen, pigmen empedu; kolesistitis akut yang tidak mengalami remisi, kolangitis, obstruksi biliar batu pankreas atau fistula biliar gastrointestinal; kehamilan (lihat Lampiran 4), kandung empedu tidak berfungsi; penyakit radang dan kondisi lain dari usus halus; kolon yang menganggu sirkulasi enterohepatik garam-garam empedu; penderita dengan kalsifikasi batu empedu<\/p>\n<p><strong>Efek Samping<\/strong>:<br \/>\nmual, muntah, diare, kalsifikasi batu empedu; pruritus, ruam kulit, kulit kering, keringat dingin, rambut rontok, gangguan pencernaan makanan, rasa logam, nyeri abdominal, kolesistitis, konstipasi, stomatitis, flatulen, pusing, lelah, ansietas, depresi, gangguan tidur, atralgia, mialgia, nyeri punggung, batuk, rinitis.<\/p>\n<p><strong>Dosis<\/strong>:<br \/>\npelarutan batu empedu, 8-12 mg\/kg bb sehari dalam dosis tunggal menjelang tidur atau dalam 2 dosis terbagi sampai selama 2 tahun, obat diminum bersama dengan susu atau makanan; pengobatan dilanjutkan selama 3-4 bulan setelah batunya melarut.<br \/>\nSirosis empedu primer: 10-15 mg\/kg bb sehari dalam 2-4 dosis terbagi.<\/p>\n<p style=\"padding-left: 40px;\">Pemutusan pemberian asam ursodeoksikolat selama 4 minggu berarti pengobatan harus dimulai lagi dari awal<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"182_Pengikat_asam_empedu\"><\/span>1.8.2 Pengikat asam empedu<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Kolestiramin merupakan resin penukar anion yang tidak diabsorpsi dari saluran cerna. Dapat meringankan diare dan pruritus dengan membentuk senyawa kompleks dengan asam empedu dalam usus yang tidak larut. Kolestiramin dapat mengganggu absorpsi sejumlah obat. Kolestiramin juga digunakan pada hiperkolesterolemia (bagian 2.10).<\/p>\n<p><strong>Monografi<\/strong><\/p>\n<h3><span class=\"ez-toc-section\" id=\"KOLESTIRAMIN_RESIN_PENUKAR_ANION\"><\/span>KOLESTIRAMIN (RESIN PENUKAR ANION)<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h3>\n<p><strong>Indikasi<\/strong>:<br \/>\ndiare akibat penyakit Crohn, reseksi usus, vagotomi, neuropati vagal diabetik, dan radiasi; gatal-gatal pada penyakit hati, dan hiperkolesterolemia, lihat 2.10.1<\/p>\n<p><strong>Peringatan<\/strong>:<br \/>\nlihat 2.10.1<\/p>\n<p><strong>Kontraindikasi<\/strong>:<br \/>\nlihat 2.10.1<\/p>\n<p><strong>Efek Samping<\/strong>:<br \/>\nlihat 2.10.1<\/p>\n<p><strong>Dosis<\/strong>:<br \/>\ndiare, setelah introduksi awal selama 3-4 minggu, 12-24 g sehari dicampur dengan air (atau cairan lain yang sesuai), dalam dosis tunggal atau 4 dosis terbagi, selanjutnya disesuaikan sebagaimana diperlukan; maksimal 36 g sehari.<\/p>\n<p><strong>Saran<\/strong>: obat-obat lain harus diberikan sekurang-kurangnya 1 jam sebelum atau 4-6 jam setelah kolestiramin guna mengurangi kemungkinan gangguan absorpsi<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"183_Pankreatin\"><\/span>1.8.3 Pankreatin<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Pengganti enzim pankreas (suplemen pankreatin) diperlukan bila sekresi pankreas terganggu pada kasus cystic fibrosis dan setelah pankreatektomi, gastrektomi, pankreatitis kronis. Pankreatin membantu pencernaan karbohidrat, lemak, dan protein. Pankreatin juga mungkin diperlukan pada tumor yang menghambat aliran keluar dari pankreas (misal kanker pankreatik).<\/p>\n<p>Pankreatin diinaktifkan oleh asam lambung, karena itu sebaiknya diberikan dengan makanan (atau sesaat sebelum atau setelah makan). Sekresi asam lambung mungkin dapat dikurangi dengan pemberian simetidin atau ranitidin satu jam sebelumnya (lihat 1.1.2). Penggunaan bersama antasida juga mengurangi keasaman lambung. Sediaan salut enterik menghasilkan kadar enzim yang lebih tinggi dalam usus duodeni.<\/p>\n<p>Karena pankreatin juga diinaktifkan oleh panas, maka panas yang berlebihan sebaiknya dihindari ketika sediaan dicampur dengan cairan atau makanan. Campuran ini tidak boleh disimpan lebih dari satu jam. Dosis disesuaikan menurut besar, jumlah dan konsistensi feses sampai pasien merasa kondisinya membaik. Mungkin dosis perlu ditambah jika pasien mengkonsumsi makanan ringan diantara jam makan.<\/p>\n<p>Pankreatin dapat mengiritasi kulit sekitar mulut (perioral) dan mukosa bukal jika tertahan dalam mulut, dan dosis berlebihan dapat menyebabkan iritasi perianal. Efek samping yang paling sering muncul adalah gangguan saluran cerna termasuk mual, muntah dan ketidaknyamanan perut, hiperurisemia dan hiperurikosuria terjadi berkaitan dengan penggunaan dosis yang sangat besar. Reaksi hipersensitivitas kadang- kadang terjadi dan dapat terjadi pada petugas yang menyiapkan obat.<\/p>\n<p><strong>Monografi<\/strong><\/p>\n<h3><span class=\"ez-toc-section\" id=\"PANKREATIN\"><\/span>PANKREATIN<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h3>\n<p><strong>Indikasi<\/strong>, <strong>Peringatan<\/strong>, dan <strong>Efek Samping<\/strong>: lihat keterangan di atas<\/p>\n<p><strong>Dosis<\/strong>:<br \/>\noral: dewasa dan anak 0,5-2 g sehari dalam dosis terbagi bersama makanan.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"","protected":false},"author":1,"featured_media":3976,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jetpack_post_was_ever_published":false,"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":""},"categories":[267],"tags":[268],"class_list":["post-3730","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-ioni","tag-ioni"],"aioseo_notices":[],"jetpack_sharing_enabled":true,"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/apoteker.net\/blog\/wp-content\/uploads\/2022\/12\/Obat-yang-Mempengaruhi-Sekresi-Usus-min.jpg?fit=682%2C411&ssl=1","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/apoteker.net\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3730","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/apoteker.net\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/apoteker.net\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/apoteker.net\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/apoteker.net\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=3730"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/apoteker.net\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3730\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/apoteker.net\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media\/3976"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/apoteker.net\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=3730"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/apoteker.net\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=3730"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/apoteker.net\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=3730"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}