{"id":3741,"date":"2022-12-29T13:07:39","date_gmt":"2022-12-29T05:07:39","guid":{"rendered":"http:\/\/localhost\/artikelpintar\/?p=1051"},"modified":"2023-03-07T22:19:57","modified_gmt":"2023-03-07T14:19:57","slug":"3-1-antiasma-dan-bronkodilator","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/apoteker.net\/blog\/3-1-antiasma-dan-bronkodilator\/","title":{"rendered":"Antiasma dan Bronkodilator"},"content":{"rendered":"<p><strong>Apoteker.Net<\/strong> &#8211; Obat-obat yang digunakan dalam tata laksana asma antara lain teofilin, agonis adrenoseptor beta-2 (3.1.2.1), bronkodilator antimuskarinik (3.1.3), kortikosteroid (3.2), kromoglikat dan nedokromil, dan antagonis reseptor leukotrien (3.3).<\/p>\n<div id=\"ez-toc-container\" class=\"ez-toc-v2_0_80 counter-hierarchy ez-toc-counter ez-toc-grey ez-toc-container-direction\">\n<div class=\"ez-toc-title-container\">\n<p class=\"ez-toc-title\" style=\"cursor:inherit\">Daftar Isi<\/p>\n<span class=\"ez-toc-title-toggle\"><a href=\"#\" class=\"ez-toc-pull-right ez-toc-btn ez-toc-btn-xs ez-toc-btn-default ez-toc-toggle\" aria-label=\"Toggle Table of Content\"><span class=\"ez-toc-js-icon-con\"><span class=\"\"><span class=\"eztoc-hide\" style=\"display:none;\">Toggle<\/span><span class=\"ez-toc-icon-toggle-span\"><svg style=\"fill: #999;color:#999\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" class=\"list-377408\" width=\"20px\" height=\"20px\" viewBox=\"0 0 24 24\" fill=\"none\"><path d=\"M6 6H4v2h2V6zm14 0H8v2h12V6zM4 11h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2zM4 16h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2z\" fill=\"currentColor\"><\/path><\/svg><svg style=\"fill: #999;color:#999\" class=\"arrow-unsorted-368013\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" width=\"10px\" height=\"10px\" viewBox=\"0 0 24 24\" version=\"1.2\" baseProfile=\"tiny\"><path d=\"M18.2 9.3l-6.2-6.3-6.2 6.3c-.2.2-.3.4-.3.7s.1.5.3.7c.2.2.4.3.7.3h11c.3 0 .5-.1.7-.3.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7zM5.8 14.7l6.2 6.3 6.2-6.3c.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7c-.2-.2-.4-.3-.7-.3h-11c-.3 0-.5.1-.7.3-.2.2-.3.5-.3.7s.1.5.3.7z\"\/><\/svg><\/span><\/span><\/span><\/a><\/span><\/div>\n<nav><ul class='ez-toc-list ez-toc-list-level-1 ' ><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-1\" href=\"https:\/\/apoteker.net\/blog\/3-1-antiasma-dan-bronkodilator\/#Cara_pemberian_obat_asma\" >Cara pemberian obat asma<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-2\" href=\"https:\/\/apoteker.net\/blog\/3-1-antiasma-dan-bronkodilator\/#Asma_akut_berat\" >Asma akut berat<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-3\" href=\"https:\/\/apoteker.net\/blog\/3-1-antiasma-dan-bronkodilator\/#Penyakit_paru_obstruksi_kronik\" >Penyakit paru obstruksi kronik<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-4\" href=\"https:\/\/apoteker.net\/blog\/3-1-antiasma-dan-bronkodilator\/#Croup\" >Croup<\/a><ul class='ez-toc-list-level-3' ><li class='ez-toc-heading-level-3'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-5\" href=\"https:\/\/apoteker.net\/blog\/3-1-antiasma-dan-bronkodilator\/#Tabel_31_TATA_LAKSANA_ASMA_KRONIK_PADA_DEWASA_DAN_ANAK\" >Tabel 3.1: TATA LAKSANA ASMA KRONIK PADA DEWASA DAN ANAK<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-3'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-6\" href=\"https:\/\/apoteker.net\/blog\/3-1-antiasma-dan-bronkodilator\/#Tabel_32_TATA_LAKSANA_ASMA_AKUT_BERAT_PADA_DEWASA_DAN_ANAK\" >Tabel 3.2 TATA LAKSANA ASMA AKUT BERAT PADA DEWASA DAN ANAK<\/a><\/li><\/ul><\/li><\/ul><\/nav><\/div>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Cara_pemberian_obat_asma\"><\/span>Cara pemberian obat asma<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p><strong>Inhalasi <\/strong>Sediaan inhalasi diberikan langsung ke saluran napas, dosis yang digunakan lebih kecil dari obat yang diberikan secara oral sehingga efek samping dapat dikurangi. Inhalasi dosis terukur bertekanan merupakan metode pemberian yang efektif dan nyaman sebagai obat asma. <em>Spacer devices <\/em>dapat memperbaiki penerimaan obat terutama pada penderita yang mengalami kesulitan menggunakan inhalasi dosis terukur bertekanan dan anak-anak; <em>spacer <\/em>juga mengurangi efek samping lokal yang tidak diinginkan akibat kortikosteroid inhalasi. Juga tersedia <em>breath actuated inhaler <\/em>dan serbuk inhalasi.<\/p>\n<p>Larutan untuk nebulisasi digunakan pada asma akut berat. Obat ini diberikan selama sekitar 10 menit dengan menggunakan nebuliser; nebulisasi di rumah sakit biasanya menggunakan oksigen. Sedangkan kompresor elektrik sesuai untuk penggunaan di rumah. <strong>Oral <\/strong>Rute pemberian oral digunakan untuk pasien yang tidak dapat menggunakan cara inhalasi. Efek samping sistemik pada pemberian oral lebih sering muncul dibanding inhalasi. Obat yang diberikan secara oral antara lain agonis adrenoseptor beta-2, kortikosteroid, teofilin dan antagonis reseptor leukotrien.<\/p>\n<p><strong>Parenteral <\/strong>Injeksi agonis adrenoseptor beta-2, kortikosteroid, dan aminofilin digunakan untuk asma akut berat jika pemberian nebulasi tidak memadai atau tidak sesuai. Jika pasien dirawat di rumah, segera dibawa ke rumah sakit.<\/p>\n<p>Tata laksana Asma Kronik pada Dewasa dan Anak, lihat <a href=\"https:\/\/apoteker.net\/blog\/3-1-antiasma-dan-bronkodilator\/#Tabel_31_TATA_LAKSANA_ASMA_KRONIK_PADA_DEWASA_DAN_ANAK\"><strong>Tabel 3.1<\/strong><\/a>.<strong><br \/>\n<\/strong>Tata laksana Asma Akut Berat pada Dewasa dan Anak, lihat <a href=\"https:\/\/apoteker.net\/blog\/3-1-antiasma-dan-bronkodilator\/#Tabel_32_TATA_LAKSANA_ASMA_AKUT_BERAT_PADA_DEWASA_DAN_ANAK\"><strong>Tabel 3.2<\/strong><\/a>.<\/p>\n<p><strong>Kehamilan dan Menyusui <\/strong>Penting untuk diingat bahwa asma harus dikontrol dengan baik selama kehamilan, supaya tidak mempengaruhi kehamilan, persalinan, atau janin. Obat asma sebaiknya diberikan secara inhalasi untuk meminimalkan pajanan pada janin.<\/p>\n<p>Eksaserbasi berat asma dapat berefek buruk pada kehamilan dan harus segera diobati dengan pengobatan konvensional, termasuk kortikosteroid secara oral atau parenteral dan nebulisasi agonis beta-2 selektif. Prednisolon merupakan kortikosteroid terpilih untuk pemberian oral karena kadar prednisolon yang mencapai fetus sangat rendah. Oksigen segera diberikan untuk menjaga saturasi agar oksigen arteri tetap di atas 95% dan mencegah hipoksia pada ibu dan janin. Inhalasi teofilin dan prednisolon dapat digunakan seperti biasa pada masa menyusui.<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Asma_akut_berat\"><\/span>Asma akut berat<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Asma berat dapat berakibat fatal, dan harus segera diobati semaksimal mungkin. Keadaan ini ditandai dengan dispnea persisten yang tidak dapat diatasi dengan bronkodilator, kelelahan, nadi cepat (lebih dari 110\/menit), dan puncak arus ekspirasi sangat rendah. Pada asma yang semakin parah, bising napas mungkin tidak terdengar. Pasien- pasien seperti ini harus diberi oksigen (bila tersedia) dan salbutamol atau terbutalin secara nebulisasi dan diikuti kortikosteroid dosis tinggi-untuk dewasa prednisolon peroral 30-60 mg atau hidrokortison injeksi intravena 200 mg (sebagai Na suksinat); untuk anak, prednisolon peroral 1-2 mg\/kg bb (1-4 tahun maksimal 20 mg, 5-15 tahun maksimal 40 mg) atau hidrokortison injeksi intravena 100 mg; jika muntah, pemberian awal disarankan secara parenteral. Lihat Tabel 3.2 Tata laksana Asma Akut Berat pada Dewasa dan Anak.<\/p>\n<p>Bila respon tidak begitu baik, perlu dipertimbangkan pemberian ipratropium nebulisasi (lihat 3.1.2). Sebagian besar pasien tidak memerlukan atau tidak mendapat manfaat dari penambahan intravena aminofilin atau agonis beta-2, karena efek samping yang lebih besar dibanding nebulisasi agonis beta-2. Pada pasien yang belum menerima teofilin, pemberian aminofilin infus intravena lambat mungkin akan membantu.<\/p>\n<p>Pengobatan selanjutnya untuk pasien seperti di atas lebih aman dilakukan di rumah sakit, dimana peralatan resusitasi tersedia. Pengobatan tidak boleh ditunda dengan alasan untuk penelitian, pasien tidak boleh diberi penenang dan kemungkinan adanya pneumotoraks perlu dipertimbangkan.<\/p>\n<p>Bila kondisi pasien memburuk walaupun pengobatan farmakologik telah diberikan, mungkin diperlukan ventilasi tekanan positif secara intermiten.<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Penyakit_paru_obstruksi_kronik\"><\/span>Penyakit paru obstruksi kronik<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Berhenti merokok mengurangi progresivitas penurunan fungsi paru pada penyakit paru obstruksi kronis (PPOK, bronkhitis kronis atau emfisema). Infeksi menyebabkan komplikasi penyakit paru obstruksi kronis dan dapat dicegah dengan vaksinasi (vaksin pneumonokokal dan vaksin influenza).<\/p>\n<p>Dosis tinggi kortikosteroid inhalasi atau kortikosteroid oral perlu dicobakan pada pasien dengan obstruksi saluran napas derajat sedang untuk menjamin bahwa asma tidak diabaikan.<\/p>\n<p>Penyakit paru obstruksi kronis dapat ditolong dengan inhalasi agonis beta-2 atau bronkodilator antimuskarinik kerja pendek seperlunya.<\/p>\n<p>Jika obstruksi saluran napas semakin parah, inhalasi bronkodilator antimuskarinik secara reguler harus ditambahkan. Pada pasien yang tetap simtomatik atau yang mengalami dua kali atau lebih eksaserbasi dalam setahun, perlu ditambahkan agonis beta-2 kerja panjang. Teofilin dapat digunakan jika gejala masih ada setelah pemberian bronkodilator kerja pendek atau agonis beta-2 kerja panjang atau bronkodilator antimuskarinik kerja panjang atau jika pasien tidak dapat menggunakan terapi inhalasi.<\/p>\n<p>Mukolitik dapat digunakan pada pasien dengan batuk produktif yang kronis.<\/p>\n<p>Pada penyakit paru obstruksi kronis derajat sedang atau berat sebaiknya dicoba kombinasi agonis beta-2 kerja panjang dan kortikosteroid inhalasi. Pengobatan kombinasi perlu dihentikan jika setelah 4 minggu tidak ada perbaikan. Terapi oksigen jangka panjang memperpanjang ketahanan hidup (<em>survival<\/em>) pada pasien penyakit paru obstruksi kronis berat dan hipoksemia.<\/p>\n<p>Pada eksaserbasi penyakit paru obstruksi kronis dapat digunakan nebulisasi bronkodilator dengan penambahan oksigen jika diperlukan. Penggunaan kortikosteroid oral jangka pendek perlu diberikan jika peningkatan gangguan bernapas mengganggu aktivitas sehari-hari. Terapi antibakteri perlu diberikan jika sputum purulen atau jika ada tanda-tanda infeksi lain.<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Croup\"><\/span><em>Croup<\/em><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p><em>Croup <\/em>ringan pada umumnya sembuh sendiri, tetapi kortikosteroid dosis tunggal (misalnya deksametason oral 150 mcg\/kg bb) secara oral bisa bermanfaat. <em>Croup <\/em>yang lebih parah (atau <em>croup <\/em>ringan dengan komplikasi) sebaiknya dibawa ke rumah sakit, dan sebelumnya diberikan dosis tunggal kortikosteroid (misalnya deksametason oral 150 mcg\/kg bb). Pada saat di rumah sakit, pemberian deksametason 150 mcg\/kg bb secara oral atau injeksi atau budesonid 2 mg secara nebulisasi akan mengurangi gejala, jika diperlukan dosis dapat diulang setelah 12 jam. Pada <em>croup <\/em>berat yang tidak dapat diatasi dengan kortikosteroid, perlu diberikan larutan adrenalin 1:1000 (1 mg\/mL) dengan dosis\u00a0400 mcg\/kg bb (maksimum 5 mg) dengan pemantauan yang ketat dan diulang setelah\u00a030 menit jika perlu. Efek adrenalin secara nebulisasi ini akan bertahan 2-3 jam dan pasien anak perlu dipantau dengan hati-hati terhadap obstruksi berulang.<\/p>\n<h3><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Tabel_31_TATA_LAKSANA_ASMA_KRONIK_PADA_DEWASA_DAN_ANAK\"><\/span>Tabel 3.1: TATA LAKSANA ASMA KRONIK PADA DEWASA DAN ANAK<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h3>\n<table border=\"1\" cellspacing=\"0\" cellpadding=\"0\">\n<tbody>\n<tr>\n<td valign=\"top\" width=\"240\"><strong>Asma kronik: dewasa dan anak usia sekolah<\/strong><\/td>\n<td valign=\"top\" width=\"246\"><strong>Asma kronik anak di bawah 5 tahun<\/strong><\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td valign=\"top\" width=\"240\"><strong>Tahap 1: Kadang bisa diatasi dengan\u00a0<\/strong><strong>bronkodilator<\/strong><\/p>\n<p>Inhalasi agonis beta-2 kerja pendek seperlunya (sampai 1 kali\/hari)<\/p>\n<p>Catatan: Pindah ke tahap 2 jika dibutuhkan 3 kali seminggu atau lebih atau jika terjadi gejala pada malam hari lebih dari 1 kali seminggu atau eksaserbasi pada 2 tahun terakhir yang memerlukan kortikosteroid sistemik atau nebulisasi bronkodilator, periksa kepatuhan dan teknik pemakaian inhalasi<\/td>\n<td valign=\"top\" width=\"246\"><strong>Tahap 1: Kadang bisa diatasi dengan\u00a0<\/strong><strong>bronkodilator<\/strong><\/p>\n<p>Agonis beta-2 kerja pendek seperlunya (tidak lebih dari 1 kali sehari)<\/p>\n<p>Catatan: Jika dimungkinkan penggunaan inhalasi (pemberian melalui mulut kurang efektif dan lebih banyak efek samping); awasi kepatuhan, teknik dan ketepatan alat inhaler<\/p>\n<p>Pindah ke tahap 2 kebutuhan menjadi 3 kali seminggu atau lebih atau jika terjadi gejala malam hari lebih dari 1 kali seminggu atau terjadi eksaserbasi pada 2 tahun terakhir<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td valign=\"top\" width=\"240\"><strong>Tahap 2: Terapi pencegahan dengan inhalasi rutin<\/strong><\/p>\n<p>Inhalasi agonis beta-2 kerja pendek seperlunya<\/p>\n<p><em>ditambah<\/em><\/p>\n<p>inhalasi rutin kortikosteroid dosis standar<\/td>\n<td valign=\"top\" width=\"246\"><strong>Tahap 2: Terapi pencegahan dengan inhalasi rutin<\/strong><\/p>\n<p>Inhalasi agonis beta-2 kerja pendek seperlunya<\/p>\n<p><em>ditambah<\/em><\/p>\n<p>inhalasi rutin kortikosteroid dengan dosis standar,<\/p>\n<p><em>atau<\/em>\u00a0(jika kortikosteroid tidak dapat digunakan) antagonis reseptor leukotrien atau teofilin<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td valign=\"top\" width=\"240\"><strong>Tahap 3: Inhaler kortikosteroid + inhaler agonis beta-2 kerja panjang<\/strong><\/p>\n<p>Inhalasi agonis beta-2 kerja pendek seperlunya<\/p>\n<p><em>ditambah<\/em><\/p>\n<p>inhalasi rutin kortikosteroid dosis standar<\/p>\n<p><em>ditambah<\/em><\/p>\n<p>inhalasi rutin agonis beta-2 kerja panjang (salmeterol atau formoterol) hentikan pemakaian jika tidak ada respon<\/p>\n<p><em>Jika asma tidak terkontrol<br \/>\n<\/em>Tingkatkan dosis kortikosteroid inhalasi sampai dosis standar tertinggi<\/p>\n<p><em>Jika asma masih tidak terkontrol<br \/>\n<\/em>Tambahkan salah satu dari:<br \/>\nAntagonis reseptor leukotrien<br \/>\nTeofilin oral lepas lambat<br \/>\nAgonis beta-2 oral lepas lambat<\/td>\n<td valign=\"top\" width=\"246\"><strong>Tahap 3: Tambahan pengobatan<br \/>\n<\/strong>Anak 2-5 tahunInhalasi agonis beta-2 kerja pendek seperlunya<em>ditambah<\/em>Inhalasi rutin kortikosteroid dosis standar<em>ditambah<\/em>Antagonis reseptor leukotrien<\/p>\n<p>Anak di bawah 2 tahun rujuk pada spesialis anak<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td rowspan=\"3\" valign=\"top\" width=\"240\"><strong>Tahap 4: Inhalasi kortikosteroid dosis tinggi\u00a0<\/strong><strong>+ bronkodilator rutin<\/strong><\/p>\n<p>Inhalasi agonis beta-2 kerja pendek seperlunya<br \/>\nBersama dengan<\/p>\n<p>Inhalasi rutin kortikosteroid dosis tinggi<\/p>\n<p><em>ditambah<\/em><\/p>\n<p>Inhalasi agonis beta-2 kerja panjang<\/p>\n<p><em>ditambah<\/em><\/p>\n<p>Pada dewasa yang mengalami 6 minggu pengobatan:<\/p>\n<p>dapat digunakan salah satu atau lebih dari pengobatan berikut:<br \/>\nAntagonis reseptor leukotrien Teofilin oral lepas lambat Agonis beta-2 oral lepas lambat<\/td>\n<td valign=\"top\" width=\"246\">\u00a0<strong>Tahap 4: Asma yang tidak terkendali\u00a0<\/strong><strong>Rujuk dokter spesialis anak<\/strong><\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td valign=\"top\" width=\"246\"><strong>Penurunan bertahap<\/strong><\/p>\n<p>Pemantauan ulang secara teratur dibutuhkan untuk memantau keberhasilan pengobatan.<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td rowspan=\"3\" valign=\"top\" width=\"246\">1. Dosis standar kortikosteroid inhalasi (diberikan dengan inhaler dosis terukur) adalah beklometason dipropionat atau budesonid 100-400 mcg (anak:100-200 mcg) 2 kali sehari atau:<br \/>\n\u2022 Anak di bawah 2 tahun: 50-100 mcg dua kali sehari<br \/>\n\u2022 Anak 2-5 tahun: 100-200 mcg dua kali sehari<br \/>\n\u2022 Anak 5-12 tahun: 100-200 mcg dua kali sehari<br \/>\n\u2022 Anak 12-18 tahun: 100-400 mcg dua kali sehari<br \/>\natau flutikason propionat 50-200 mcg (Anak: 50-100 mcg) 2 kali sehari<br \/>\n\u2022 \u00a0Anak di bawah 5 tahun: 50-100 mcg dua kali sehari<br \/>\n\u2022 \u00a0Anak 5-12 tahun: 50-100 mcg dua kali sehari<br \/>\n\u2022 \u00a0Anak 12-18 tahun: 50-200 mcg dua kali sehari<br \/>\natau mometason furoat (diberikan sebagai serbuk inhaler)<br \/>\n\u2022 \u00a0Anak 12-18 tahun: 200 mcg dua kali sehari2. Dosis tinggi kortikosteroid inhalasi adalah beklometason dipropionat atau budesonid 0,8-2 mg perhari (dalam dosis terbagi) atau flutikason propionate 0,4-1 mg perhari (dalam dosis terbagi), menggunakan spacer volume besar beklometason diproprionat atau budesonid:<br \/>\n\u2022 Anak di bawah 2 tahun: sampai dengan 200 mcg dua kali sehari<br \/>\n\u2022 Anak 2-5 tahun: sampai dengan 400 mcg dua kali sehari<br \/>\n\u2022 Anak 5-12 tahun: sampai dengan 400 mcg dua kali sehari<br \/>\n\u2022 Anak 12-18 tahun: 0,4 \u2013 1 mg dua kali sehari atau flutikason proprionat sampai 200 mcg 2 kali sehari<br \/>\n\u2022 Anak di bawah 5 tahun: 100-200 mcg dua kali sehari<br \/>\n\u2022 Anak 5-12 tahun: 100-200 mcg dua kali sehari<br \/>\n\u2022 Anak 12-18 tahun: 200-500 mcg dua kali sehari Mometason Furoat (diberikan sebagai serbuk inhaler) sampai 800 mcg sehari (dalam 2 kali dosis terbagi)<br \/>\n\u2022 Anak 12-18 tahun: sampai dengan 400 mcg dua kali sehari3.\u00a0\u00a0 Alternatif inhalasi kortikosteroid adalah antagonis reseptor leukotrien, teofilin, dan pada dewasa kromoglikat rutin, dan pada anak di atas 5 tahun nedokromil rutin4.\u00a0\u00a0 Pengamatan fungsi paru tidak dapat digunakan sebagai petunjuk penatalaksanaan pada anak di bawah 5 tahun<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td valign=\"top\" width=\"240\"><strong>Tahap 5: Tablet kortikosteroid rutin<\/strong><\/p>\n<p>Inhalasi agonis beta-2 kerja pendek seperlunya bersama dengan<br \/>\nInhalasi rutin kortikosteroid dosis tinggi dan<br \/>\n1 atau lebih bronkodilator aksi panjang (lihat tahap 4)<\/p>\n<p><em>ditambah<\/em><\/p>\n<p>Tablet prednisolon rutin (sebagai dosis tunggal\/hari)<\/p>\n<p>Catatan: pada penambahan prednisolon rutin, dilanjutkan inhalasi kortikosteroid dosis tinggi( kecuali pada kasus di mana dosis yang diijinkan berlebih). Pasien seperti ini harus dirujuk ke klinik asma<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td valign=\"top\" width=\"240\"><strong>Penurunan bertahap<\/strong><\/p>\n<p>Tinjau ulang terapi setiap 3 bulan. Jika dapat terkontrol, dimungkinkan penurunan tahap terapi.<\/p>\n<p>Gunakan dosis kortikosteroid terendah; kurangi dosis inhalasi kortikosteroid secara bertahap (penurunan dosis hingga 50% dilakukan setiap 3 bulan) hingga dosis terendah yang masih dapat engendalikan asma.<\/td>\n<\/tr>\n<\/tbody>\n<\/table>\n<h3><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Tabel_32_TATA_LAKSANA_ASMA_AKUT_BERAT_PADA_DEWASA_DAN_ANAK\"><\/span>Tabel 3.2 TATA LAKSANA ASMA AKUT BERAT PADA DEWASA DAN ANAK<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h3>\n<div class=\"field field-name-body field-type-text-with-summary field-label-hidden\">\n<div class=\"field-items\">\n<div class=\"field-item even\">\n<table border=\"1\" frame=\"box\" rules=\"all\">\n<tbody>\n<tr>\n<td>Eksaserbasi asma sedang<\/td>\n<td colspan=\"2\">Asma akut berat pada dewasa dan anak<\/td>\n<td colspan=\"2\">Asma yang mengancam nyawa pada dewasa dan anak<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td valign=\"top\">\n<ul>\n<li>Arus puncak &gt; 50-75% dari nilai prediksi atau nilai terbaik<\/li>\n<li>Tidak ada tanda asma akut berat<\/li>\n<li>Peningkatan gejala<\/li>\n<\/ul>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Diterapi di rumah tapi respon terapi harus dinilai oleh dokter<\/p>\n<p>Terapi:<br \/>\nBerikan oksigen aliran tinggi, jika ada. Salbutamol atau terbutalin melalui spacer volume besar (4-6 hirupan masing-masing dihirup terpisah, diulang tiap 10-20 menit jika perlu) atau nebulisasi<\/p>\n<p>Monitor respon 15-30 menit setelah nebulisasi<\/p>\n<p>Berikan prednisolon oral 40 \u2013 50 mg sehari selama paling sedikit 5 hari dan dinaikkan menjadi dosis biasa Tindak lanjut:<\/p>\n<p>Monitor gejala dan arus puncak. Buat rencana pengobatan asma<\/p>\n<p>Tinjau perlunya tindakan bedah dalam 48 jam<\/p>\n<p>Modifikasi terapi sesuai dengan petunjuk Tatalaksana untuk asma kronik<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><strong>Penting<\/strong>: Anggap setiap konsultasi darurat sebagai asma akut berat sampai dipastikan bukan<\/p>\n<p>Kegagalan mendapatkan respons yang adekuat pada setiap saat memerlukan rujukan segera ke rumah sakit<\/td>\n<td colspan=\"2\">Dewasa<\/p>\n<ul>\n<li>Tidak dapat menyelesaikan kalimat dalam satu tarikan napas<\/li>\n<li>Nadi ? 110 kali\/menit<\/li>\n<li>Respirasi ? 25 kali\/ menit<\/li>\n<li>Arus puncak 33-50% dari nilai prediksi atau nilai terbaik<\/li>\n<\/ul>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Jika terdapat satu atau lebih tanda di atas pertimbangkan untuk masuk rumah sakit<\/p>\n<p>Terapi:<br \/>\nOksigen aliran tinggi (bila tersedia)<\/p>\n<p>Salbutamol atau terbutalin melalui spacer volume besar (4-6 hirupan masing-masing dihirup terpisah, diulang tiap 10-20 menit jika perlu) atau nebulisasi (yang dijalankan oleh oksigen jika ada)<\/p>\n<p>Prednisolon oral 40-50 mg sehari selama paling sedikit 5 hari (atau hidrokortison 400 mg intravena dalam 4 dosis terbagi)<\/p>\n<p>Monitor respon 15-30 menit sesudah nebulisasi<\/p>\n<p>Jika beberapa tanda asma akut menetap<\/p>\n<p>Persiapkan untuk masuk rumah sakit<\/p>\n<p>Saat menunggu ambulans ulangi nebulisasi agonis beta-2 dan berikan bersama nebulisasi ipratropium 500 \u00b5g<\/p>\n<p>Sebagai alternatif jika gejala telah membaik, respirasi dan nadi teratur dan peak flow &gt; 50% dari nilai prediksi atau nilai terbaik, tingkatkan terapi biasa dan lanjutkan prednisolon paling sedikit 5 hari<\/p>\n<p>Tindak lanjut:<\/p>\n<p>Monitor gejala dan arus puncak, buat rencana pengobatan asma<\/p>\n<p>Tinjau perlunya tindakan bedah dalam 24 jam, modifikasi terapi sesuai dengan petunjuk untuk Tatalaksana asma kronik<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Anak<br \/>\nAnak di bawah 2 tahun: Beta-2 agonis kerja pendek dari inhaler dosis terukur melalui spacer volume besar (dengan masker wajah pada anak yang sangat kecil) sampai 10 semprot (1 semprot setiap 15-30 detik) dan diulangi setiap 20-30 menit jika perlu. Jika respon kurang baik atau terjadi relaps antara 3-4 jam, bawa secepatnya ke rumah sakit untuk penanganan lebih lanjut<\/p>\n<p>Anak di bawah 18 bulan: seringkali memberikan respon yang buruk terhadap bronkodilator, nebulasi beta-2 agonis terkait dengan bronkospasme paradoksial dan saturasi oksigen transien yang memburuk, respon terhadap prednisolon juga kurang baik pada anak pada usia ini.<\/p>\n<p>Anak 2-18 tahun:<br \/>\nBeta-2 agonis kerja pendek dari inhaler dosis terukur melalui spacer volume besar (dengan masker wajah pada anak di bawah 5 tahun), sampai 10 semprot (1 semprot setiap 15-30 detik) dan diulangi setiap\u00a020-30 menit jika perlu.<\/p>\n<p>Pada semua kasus diberikan prednisolon oral 1-2 mg\/kg bb sekali sehari (maksimum 20 mg sehari untuk anak di bawah 5 tahun, untuk anak 5-18 tahun maksimum 40 mg sehari) selama 3-5 hari<\/td>\n<td colspan=\"2\" valign=\"top\">Dewasa<\/p>\n<ul>\n<li><em>Silent chest<\/em><\/li>\n<li>Sianosis<\/li>\n<li>Usaha bernapas sangat lemah<\/li>\n<li>Bradikardi, kelelahan, aritmia, hipotensi, kebingungan atau koma<\/li>\n<li>Peak flow &lt; 33% dari nilai prediksi atau nilai terbaik<\/li>\n<li>Saturasi oksigen arteri &lt; 92% Persiapkan masuk rumah sakit SEGERA<\/li>\n<\/ul>\n<p>Terapi:<br \/>\nPrednisolon oral 40- 50 mg sehari selama paling sedikit 5 hari (atau hirokortison intravena 400 mg\/hari dalam 4 dosis terbagi) (segera).<\/p>\n<p>Nebulisasi yang dijalankan oleh oksigen ambulans<\/p>\n<p>Nebulisasi agonis beta-2 bersama nebulisasi ipratropium<\/p>\n<p>DAMPINGI PASIEN SAMPAI AMBULANS DATANG<\/p>\n<p>Jika tidak tersedia nebuliser, berikan 1 puff \u00a0agonis beta-2 menggunakan spacer volume besar dan ulangi 10-20 kali<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><strong>Penting<\/strong>: pasien dengan serangan asma berat atau mengancam nyawa mungkin tidak stres dan mungkin tidak menunjukkan semua abnormalitas di atas; adanya gejala apa saja perlu diwaspadai oleh dokter<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Anak<br \/>\nAnak: Bawa ke rumah sakit segera. Pemberian oksigen menggunakan masker atau\u00a0<em>prongs\u00a0<\/em>hidung memperbaiki saturasi oksigen di atas\u00a092%.<\/p>\n<p>Pengobatan inhalasi larutan nebulasi agonis beta-2 kerja pendek salbutamol 2,5 mg atau terbutalin 5 mg. Dosis diulangi setiap 20-30 menit jika perlu lalu diturunkan frekuensi pemberiannya tergantung respon. Jika respon buruk, tambahkan ipatropium bromide 125-250 mcg setiap 20-30 menit untuk 2 jam pertama, kurangi frekuensi\u00a0pemberian jika kondisi membaik. Berikan prednisolon oral 1-2 mg\/kg bb (maksimum 40 mg) sekali sehari untuk 3-5 hari atau jika pemberian oral tidak mungkin, gunakan hidrokortison intravena (dalam bentuk natrium suksinat). Jika perlu, pindahkan anak ke ICU Anak untuk penanganan agonis beta-2 kerja pendek secara parenteral atau aminofilin.<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td colspan=\"2\" valign=\"top\"><strong>Pertolongan pertama episode akut atau eksaserbasi asma pada anak<\/strong><\/p>\n<p>Asma ringan atau sedang<\/p>\n<ul>\n<li>Agonis beta-2 kerja pendek dari inhaler dosis terukur melalui spacer volume besar (dengan masker wajah pada anak yang sangat kecil) sampai 10 puff (1 puff setiap 15-30 detik) sebagai alternatif berikan dengan nebuliser<\/li>\n<li>Jika respon baik (kecepatan respirasi berkurang, penggunaan otot asesori berkurang, pola tingkah laku membaik) ulangi inhalasi agonis beta-2 jika diperlukan<\/li>\n<li>Mulailah pemberian prednisolon oral jangka pendek selama 3 hari (di bawah 2 tahun 10 mg, 2-5 tahun 20 mg, di atas 5 tahun 30-40 mg sehari; anak yang sudah mendapat prednisolon, tablet 2 mg\/kg bb sampai maksimal 60 mg)<\/li>\n<li>Pertimbangkan pemberian hidrokortison intravena bagi mereka yang tidak dapat mempertahankan prednisolon oral<\/li>\n<li>Jika terapi tidak responsive atau kambuh dalam 3-4 jam<\/li>\n<li>Rujuk ke rumah sakit segera<\/li>\n<li>Berikan nebuliser beta-2 agonis dengan ipratropium 250 mcg setiap<\/li>\n<li>20-30 menit<\/li>\n<li>Berikan oksigen aliran tinggi melalui masker<\/li>\n<\/ul>\n<\/td>\n<td colspan=\"3\" valign=\"top\"><strong>Tanda asma akut pada anak<\/strong><\/p>\n<p>Asma akut berat<\/p>\n<ul>\n<li>Kehabisan napas untuk bicara<\/li>\n<li>Kehabisan napas untuk makan<\/li>\n<li>Respirasi &gt; 50 kali\/menit (&gt; 30 kali\/menit pada anak di atas 5 tahun)<\/li>\n<li>Nadi &gt; 130 kali\/menit (&gt; 120 kali\/menit pada anak di atas 5 tahun)<\/li>\n<li>Pada anak yang lebih kecil, penggunaan otot-otot pernapasan asesori<\/li>\n<li>Pada anak yang lebih besar, arus puncak ?50 % dari nilai prediksi atau nilai terbaik<\/li>\n<\/ul>\n<p>Kondisi yang mengancam nyawa<\/p>\n<p>Sianosis,\u00a0<em>silent chest\u00a0<\/em>atau usaha bernapas yang buruk<\/p>\n<p>Kelelahan, agitasi, hipotensi, bingung, penurunan kesadaran atau koma<\/p>\n<p>Pada anak yang lebih besar, arus puncak &lt; 33 % dari nilai prediksi atau nilai terbaik<\/td>\n<\/tr>\n<\/tbody>\n<\/table>\n<\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n<p>Selanjutnya:<\/p>\n<p>3.1.1 Teofilin<br \/>\n3.1.2 Agonis Adrenoseptor (Simpatomimetik)<br \/>\n3.1.3 Bronkodilator dan Antimuskarinik<br \/>\n3.1.4 Bronkodilator Kombinasi<br \/>\n3.1.5 Inhalasi dan Nebulisasi<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"","protected":false},"author":1,"featured_media":4050,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jetpack_post_was_ever_published":false,"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":""},"categories":[267],"tags":[],"class_list":["post-3741","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-ioni"],"aioseo_notices":[],"jetpack_sharing_enabled":true,"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/apoteker.net\/blog\/wp-content\/uploads\/2022\/12\/Antiasma-Bronkodilator-min.jpg?fit=760%2C466&ssl=1","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/apoteker.net\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3741","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/apoteker.net\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/apoteker.net\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/apoteker.net\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/apoteker.net\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=3741"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/apoteker.net\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3741\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/apoteker.net\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media\/4050"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/apoteker.net\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=3741"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/apoteker.net\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=3741"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/apoteker.net\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=3741"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}