29.1 C
Banjarmasin
Kamis, Februari 29, 2024

Mengenal Rifampicin

Apoteker.Net – Rifampicin adalah obat yang digunakan untuk mengobati infeksi bakteri, terutama infeksi yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis, yaitu bakteri yang menyebabkan tuberculosis (TB). Rifampicin juga dapat digunakan untuk mengobati infeksi lainnya, seperti infeksi saluran kemih, infeksi tulang, dan meningitis.

Rifampicin bekerja dengan cara menghambat produksi protein di dalam sel-sel bakteri, sehingga membunuh bakteri atau menghambat pertumbuhannya. Rifampicin biasanya dikonsumsi dalam bentuk tablet atau kapsul yang dikonsumsi dengan atau tanpa makanan.

Efek samping yang mungkin terjadi setelah mengonsumsi rifampicin termasuk mual, muntah, diare, sakit kepala, dan reaksi alergi.

Definisi

Antibiotikum ini adalah derivate semisintetis dari rifamisin B (1965) yang dihasilkan oleh Streptomyces mediterranei, yaitu suatu jamur tanah yang berasal dari Perancis Selatan. Zat yang berwarna merah-bata ini bermolekul besar dengan banyak cincin (makrosiklis). Rifampisin berkhasiat bakterisid luas terhadap fase pertumbuhan M.tuberkulosae dan M.leprae, baik yang berada di luar maupun didalam sel (ekstra-intraseluler). Obat ini mematikan kuman yang ”dorman” selama fase pembelahannya yang singkat. Maka, obat ini sangat penting untuk membasmi semua basil guna mencegah kambuhnya TBC (Tjay, 2003).

Rifampisin juga aktif terhadap kuman Gram-positif lain dan kuman Gram-negatif, (antara lain E.coli, Klebsiella, suku-suku Proteus dan Pseudomonas), terutama terhadap Stafilokoki, termasuk yang resisten terhadap penisilin. Terhadap kuman yang terakhir, aktifitasnya agak lemah. Mekanisme Kerjanya berdasarkan perintangan spesifik dari suatu enzim bakteri RNA-polymerase, sehingga sintesa RNA terganggu (Tjay, 2003).

Indikasi

Penggunaannya pada terapi TBC paru sangat dibatasi oleh harganya yang cukup mahal. Manfaat utamanya terletak pada terapi yang dipersingkat dari lebih kurang 2 tahun hingga 6-12 bulan. Rifampisin juga merupakan obat pilihan pertama terhadap penyakit lepra dan sebagai obat pencegah infeksi meningococci pada orang-orang yang telah berhubungan dengan pasien meningitis. Obat ini sangat efektif terhadap gonore (lebih kurang 90%) (Tjay, 2003).

Absorpsi dan Eksresi

Resorpsinya di usus sangat tinggi; distribusinya ke jaringan dan cairan tubuh juga baik, termasuk CCS. Hal ini nyata sekali pada pewarnaan jingga/merah pada air seni, tinja, ludah, keringat dan air mata. Lensa kontak (lunak) juga dapat berwarna permanen. Plasma t1/2–nya berkisar antara 1,5 sampai 5 jam dan meningkat bila ada gangguan fungsi hati. Di lain pihak, masa paruh ini akan turun pada pasien yang bersamaan menggunakan isoniazida. Dalam hati terjadi desasetilasi dengan terbentuknnya metabolit-metabolit dengan kegiatan antibakteriil. Eksresinya khusus melalui empedu, sedangkan melalui ginjal berlangsung secara fakutatif (Tjay, 2003).

Efek samping

Efek samping yang terpenting tetapi tidak sering terjadi adalah penyakit kuning (icterus), terutama bila dikombinasikan dengan INH yang juga agak toksis bagi hati. Pada penggunaan lama, dianjurkan untuk memantau fungsi hati secara periodik. Obat ini agak sering juga menyebabkan gangguan saluran cerna seperti mual, muntah, sakit ulu hati, kejang perut dan diare, begitu pula gejala gangguan SSP dan reaksi hipersensitasi (Tjay, 2003).

Interaksi

Rifampisin mempercepat perombakan obat-obat lain bila diberikan bersamaan waktu dengan jalan induksi enzim (sistem-mikrosomal P450) dalam hati. Akibatnya, BA diturunkan, misalnya dari Klaritromisin dan penghambat protease (obat-obat AIDS). Kadar darah dari obat-obat ini dapat turun hingga 80%, yang dapat mengakibatkan pembentukan resistensi cepat dari HIV. Obat lain yang dipercepat metabolismenya adalah antikoagulansia, sehingga harus dinaikkan dosisnya. Pil antihamil menjadi tidak terjamin lagi efeknya, karena rifampisin mempercepat katabolisme dari berbagai zat steroid. Resistensi dapat terjadi dengan agak cepat (Tjay, 2003).

Kehamilan

Pada umumnya rifampisin dapat diberikan pada wanita hamil. Penggunaan pada minggu-minggu terakhir kehamilan dapat menimbulkan perdarahan postnatal pada ibu dan bayi. Untuk pencegahan dapat diberikan fitomenadion (vitamin K). Rifampisin mencapai air susu ibu, namun ibu diperbolehkan menyusui bayinya (Tjay, 2003).

Dosis

Pada TBC oral 1 dd 450-600 mg sekaligus pada pagi hari sebelum makan, karena kecepatan dan kadar resorpsi dihambat oleh isi lambung. Selalu diberikan dalam kombinasi INH 300 mg dan untuk 2 bulan pertama ditambah pula dengan 1,5-2 g pirazinamida setiap hari. Pada gonore: oral 1 dd 900 mg sekaligus selama 2-3 hari; pada infeksi lain 2 dd 300 mg a.c. Profilaksis pada meningitis 2 dd 10 mg/kg/hari selama 2 hari (Tjay, 2003).

*Sumber
Anonim, 1995, Farmakope Indonesia Edisi IV, DEPKES RI, Jakarta.
Tjay, Tan Hoan & Kirana Rahardja, 2003, Obat-obat Penting Edisi V, Gramedia, Jakarta.
Winotopradjoko, Martono, 2006, Informasi Spesialite Obat Indonesia Vol.41, PT. Anem Kosong Anem (AKA), Jakarta.


Selalu berkonsultasi dengan dokter Anda sebelum mengonsumsi rifampicin atau obat lainnya, terutama jika Anda memiliki riwayat reaksi alergi atau penyakit kronis lainnya. Jangan mengonsumsi rifampicin tanpa resep dokter.

Artikel sebelumnya
Artikel selanjutnya
Jimmy Ahyari
Jimmy Ahyari
Seorang apoteker yang juga menyukai dunia internet dan teknologi informasi. Just google my name. 🤣
Continue Reading

Disclaimer: Artikel yang terdapat di situs ini hanya bertujuan sebagai informasi, dan bukan sebagai referensi utama atau pengganti saran/tindakan dari profesional.

error: