Apoteker.Net – Dalam sebuah jurnal The Pharmaceutical Journal Volume 265 Nomor 7106p115 yang terbit pada 22 Juli 2000 ada memuat judul “Pharmacies Need Websites“. BENAR, Anda tidak salah baca; saya juga tidak salah tulis, itu jurnal tahun 2000 dan sudah menyampaikan bahwa Apotek Perlu Website. Sekarang tahun 2020, mari kita tanya apotek terdekat dengan rumah Anda. Apakah apotek tersebut memiliki sebuah website?

Dalam jurnalnya tertulis bahwa apotek harus memiliki situs web sendiri. Ledakan penggunaan internet selama beberapa tahun terakhir ini membuat apotek wajib mempertimbangakan situs atau website sebagai salah satu pondasi bisnis seperti halnya software apotek.

Hal ini tidak serta-merta bahwa semua apotek harus segera terjun ke ruang lingkup ecommerce (bisnis online) dan menjual obat-obatan melalui internet. Di samping memerlukan sumber dana yang besar, peraturan di Indonesia terkait apotek online juga masih abu-abu saat tulisan ini dipublikasikan.

Jadi, situs web seperti apa yang seharusnya dimiliki oleh Apotek? Menurut saya, apotek bisa membangun website yang berisi informasi yang mungkin sebelumnya ada pada brosur-brosur praktek (jika ada kerjasama dengan dokter praktek) kepada calon pelanggan. Dengan adanya website apotek, maka informasi yang Anda sampaikan tidak terbatas pada ruang dan waktu selama terkoneksi dengan jaringan internet.

Dengan menggunakan website, apotek bisa meningkatkan visualisasi dengan gambar, video hingga peta digital. Informasi lebih lanjut tentang layanan tertentu yang tersedia di apotek juga dapat ditambahkan bersama dengan informasi lain yang mungkin apotek sajikan di website mereka. Pemilik apotek juga bisa memberikan tautan/link ke situs lain yang relevan dengan informasi yang disajikan.

Dengan adanya sebuah website, Apotek juga bisa menyematkan halaman kontak yang berisi email sehingga memungkinkan pengunjung untuk berinteraksi atau bertanya lebih jauh. Apoteker dapat menjawab pertanyaan di email jika waktu memungkinkan. Lebih lanjut, dengan menggunakan email berarti bahwa catatan tertanggal dari semua korespondensi disimpan. Ini akan menjadi data yang mungkin bisa berguna di kemudian hari.

Jika memungkinkan, juga bisa membuat semacam “forum” untuk tanya jawab. Tentu informasi yang disajikan jangan sampai melanggar peraturan atau perundang-undangan yang ada. Misalnya, apoteker tidak bisa secara online menentukan bahwa “kamu sakit ini, maka obatnya ini”, ini (menentukan penyakit) bukan ranah seorang apoteker.

Beberapa alasan mengapa apotek perlu mulai menggunakan internet dan e-commerce secara serius bahwa internet akan berdampak besar pada apotek dalam waktu dekat. Selain e-commerce, transmisi resep elektronik akan segera menjamur (bahkan beberapa apotek maju sudah mulai menerapkan resep elektronik ini).

Pada akhirnya, diharapkan keberadaan website sebuah apotek menjadi nilai tambah di mata pelanggan dan pasien karena kemudahan mengakses informasi atau jadwal praktek yang tersedia.

website apotek keren

Pertanyaan selanjutnya yang menyertai adalah apakah mahal membuat website untuk apotek? Mahal atau tidak ini relatif. Dalam beberapa kasus, harga tergantung dari kapasistas hosting dan tentu saja fungsi dan desain dari sebuah website. Ada yang mematok 3 juta per tahun, ada juga yang memasang harga pembuatan website ini 18 juta. Semua tergantung dari sisi kemampuan dan kebutuhan apotek itu sendiri. Ambil contoh kita anggap harganya 6 juta per tahun, ini artinya Anda hanya membayar 500 ribu rupiah per bulan untuk sebuah website apotek Anda.

Jadi, harga ini relatif. Sesuaikan dengan kemampuan diri dan kebutuhan apotek. Satu hal yang pasti, apotek harus memiliki situs web karena Anda tidak pernah tahu siapa yang mungkin menjelajahi internet untuk mencarinya. Siapa tahu ada investor yang tertarik karena melihat lengkapnya informasi yang Anda sajikan di situs apotek milik Anda 😉

Sssst, kalau Anda butuh website, kami bisa bantu loh 🤭

Leave a Reply