29.1 C
Banjarmasin
Sabtu, April 20, 2024

Dasar Permanganometri

Apoteker.Net – Permanganometri adalah suatu teknik analisis kimia yang menggunakan oksidator permanganat (MnO4), sebagai indikator atau reagen titrasi untuk menentukan konsentrasi suatu zat kimia yang bersifat reduktif. Permanganometri mengandalkan prinsip redoks, yaitu reaksi kimia yang melibatkan transfer elektron dari satu zat ke zat lainnya.

Dasar-dasar permanganometri meliputi:

  1. Prinsip dasar permanganometri, yaitu bahwa reaksi antara permanganat dengan zat reduktif dapat digunakan untuk menentukan konsentrasi zat tersebut.
  2. Oksidator permanganat, yaitu suatu senyawa kimia dengan rumus MnO4^-. Permanganat merupakan oksidator yang kuat dan dapat digunakan sebagai indikator atau reagen titrasi untuk menentukan konsentrasi zat reduktif.
  3. Redoks, yaitu reaksi kimia yang melibatkan transfer elektron dari satu zat ke zat lainnya. Permanganometri mengandalkan prinsip redoks untuk menentukan konsentrasi zat reduktif.
  4. Indikator permanganat, yaitu suatu zat yang memiliki warna yang berbeda tergantung pada konsentrasi permanganat dalam larutan. Indikator ini digunakan untuk menentukan titik akhir titrasi.
  5. Titrasi permanganometri, yaitu proses pengukuran konsentrasi zat reduktif dengan menambahkan larutan permanganat ke dalam larutan yang akan diuji secara bertahap sampai tercapai titik akhir titrasi.

Permanganometri dapat digunakan untuk menganalisis berbagai jenis zat reduktif, seperti asam-asam organik, senyawa organik, dan logam. Permanganometri juga dapat digunakan dalam berbagai bidang, seperti kimia analitik, farmasi, dan biokimia.

Penetapan kadar zat dalam praktek ini berdasarkan reaksi redoks dengan KMnO4 atau dengan cara permanganometri. Hal ini dilakukan untuk menentukan kadar reduktor dalam suasana asam dengan penambahan asam sulfat encer, karena asam sulfat tidak bereaksi terhadap permanganat dalam larutan encer.Pembakuan KMnO4 dibuat dengan melarutkan KMnO4 dalam sejumlah air, dan mendidihkannya selama beberapa jam dan kemudian endapan MnO2 disaring. Endapan tersebut dibakukan dengan menggunakan zat baku utama, yaitu natrium oksalat. Larutan KMnO4 yang diperoleh dibakukan dengan cara mentitrasinya dengan natrium oksalat yang dibuat dengan pengenceran kristalnya pada suasana asam. Pada pembakuan larutan KMnO4 0,1 N, natrium oksalat dilarutkan kemudian ditambahkan dengan asam sulfat pekat, kemudian dititrasi dengan KMnO4 sampai larutan berwarna merah jambu pucat. Setelah didapat volume titrasi, maka dapat dicari normalitas KMnO4.

Pada permanganometri, titran yang digunakan adalah kalium permanganat. Kalium permanganat mudah diperoleh dan tidak memerlukan indikator kecuali digunakan larutan yang sangat encer serta telah digunakan secara luas sebagai pereaksi oksidasi selama seratus tahun lebih.. Setetes permanganat memberikan suatu warna merah muda yang jelas kepada volume larutan dalam suatu titrasi. Warna ini digunakan untuk menunjukkan kelebihan pereaksi (Day, 1980).

Kalium permangatat sukar diperoleh secara sempurna murni dan bebas sama sekali dari mangan oksida. Lagipula, air suling yang biasa mungkin mengandung zat-zat pereduksi yang akan bereaksi dengan kalium permanganat dengan membentuk mangan dioksida serta bukanlah suatu larutan standar primer (Basset, 1994).

Kalium permangatat merupakan oksidator kuat dalam larutan yang bersifat asam lemah, netral atau basa lemah. Dalam larutan yang bersifat basa kuat, ion permanganat dapat tereduksi menjadi ion manganat yang berwarna hijau (Rivai, 1995).

Titrasi harus dilakukan dalam larutan yang bersifat asam kuat karena reaksi tersebut tidak terjadi bolak balik, sedangakan potensial elektroda sangat tergantung pada pH (Rivai, 1995).

Kalium Permanganat distandarisasikan dengan menggunakan natrium oksalat atau sebagai arsen (III) oksida standar-standar primer (Basset, 1994).

Reaksi yang terjadi pada proses pembakuan kalium permanganat adalah:

5C2O4 + 2MnO4 + 16H+ 10CO2 + 2Mn2+ + 8H2O

Akhir titrasi ditandai dengan timbulnya warna merah muda yang disebabkan kelebihan permanganat (Rivai, 1995).

*Sumber
Anonim. 1979. Farmakope Indonesia Ed. III. Depkes RI. Jakarta.
Anonim. 1995. Farmakope Indonesia Ed. IV. Depkes RI. Jakarta.
Day, R. A & Jr. Al. Underwood. 1980. Analisis Kimia Kuantitatif. Erlangga. Jakarta.
J. Bassett. 1994. Buku Ajar Vogel Kimia Analisis Kuantitatif Anorganik. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta.
Rivai, Harrizul. 1995. Asas Pemeriksaan Kimia. UI Press. Jakarta.

Artikel sebelumnya
Artikel selanjutnya
Jimmy Ahyari
Jimmy Ahyari
Seorang apoteker yang juga menyukai dunia internet dan teknologi informasi. Just google my name. 🤣
Continue Reading

Disclaimer: Artikel yang terdapat di situs ini hanya bertujuan sebagai informasi, dan bukan sebagai referensi utama atau pengganti saran/tindakan dari profesional.

error: