ApotekerNET – Pada tanggal 25 September, tepat ketika matahari baru saja menyentuh atap-atap rumah, semua obat di dunia mengundurkan diri.
Bukan kedaluwarsa. Bukan hilang. Bukan pula berubah menjadi permen, meskipun beberapa vitamin anak memang sempat mengajukan permohonan untuk kembali menjadi permen karena merasa masa kecilnya belum selesai. Obat-obatan itu benar-benar mengundurkan diri. Mereka menulis surat bersama-sama, mencetaknya di atas kertas yang harum seperti ruang penyimpanan obat, lalu mengirimkannya kepada umat manusia melalui mesin faks tua di sebuah apotek kecil.
Suratnya hanya terdiri dari tiga kalimat.
Kepada seluruh manusia,
Kami lelah terus-menerus disalahpahami. Kami ingin cuti. Untuk sementara, kami menyerahkan semua urusan kesehatan kepada manusia yang selama ini menjaga kami dengan teliti.
Hormat kami, seluruh obat di dunia.
Di bawah tanda tangan itu ada cap berbentuk bulan sabit. Tidak ada yang tahu siapa yang mencapnya. Yang jelas, pada saat yang sama, sebuah kapsul antibiotik terlihat mengemasi koper kecil di lemari obat. Sirup batuk menolak masuk botol. Salep mengoleskan dirinya ke gagang pintu lalu pergi. Bahkan plester luka berpamitan kepada perban dengan suara lirih.
Dunia panik.
Di sebuah rumah sakit, obat bius menyatakan tidak sanggup lagi bekerja karena selama ini dianggap hanya sebagai “cairan yang membuat orang tidur”. Di puskesmas, obat penurun panas meminta hak untuk disebut dengan nama lengkapnya. Di apotek, tablet-tablet berbaris rapi di rak dan menuntut cuti bersama. Di gudang distribusi, dus-dus obat menolak naik truk karena sopirnya belum mengucapkan selamat pagi. Di pabrik obat, mesin pencampur serbuk berhenti dan mengeluarkan suara seperti kambing yang baru belajar menyanyi.
Kepala negara mengadakan rapat darurat. Para ilmuwan membuka buku-buku tebal. Para penyair menulis puisi tentang kehampaan. Seorang anak kecil mengusulkan agar semua obat dibujuk dengan susu cokelat. Usul itu ditolak karena tidak semua obat boleh diminum bersama susu cokelat, dan di sinilah untuk pertama kalinya seluruh dunia menyadari bahwa mereka membutuhkan seseorang yang memahami hal-hal seperti itu.
Maka para apoteker dipanggil.
Mereka datang dari segala arah. Ada apoteker rumah sakit yang membawa daftar terapi dan wajah kurang tidur. Ada apoteker puskesmas yang membawa catatan pasien, pulpen, dan kesabaran yang seolah tidak pernah habis. Ada apoteker komunitas dari apotek yang membawa pertanyaan-pertanyaan masyarakat. Ada apoteker di bidang distribusi yang membawa peta rute pengiriman. Ada apoteker dari pabrik obat yang membawa dokumen mutu. Ada pula apoteker peneliti, pengajar, regulator, dan mereka yang bekerja di balik meja, layar komputer, gudang, laboratorium, serta ruang-ruang yang jarang masuk kamera.
Mereka berkumpul di tempat paling aneh yang pernah dipakai untuk rapat: permukaan Bulan.
Tidak ada yang tahu mengapa sidangnya berlangsung di Bulan. Mungkin karena Bulan adalah satu-satunya tempat yang cukup luas untuk menampung semua obat yang sedang mogok. Mungkin juga karena seorang pejabat salah menekan tombol pada undangan digital. Apa pun alasannya, para apoteker tiba dengan pakaian kerja masing-masing. Sebagian memakai jas putih. Sebagian memakai seragam. Sebagian membawa helm keselamatan. Seorang apoteker dari gudang datang dengan sepatu yang masih berdebu kardus.
Ketua sidang adalah seekor kapsul biru raksasa bernama Yang Mulia Kapsul Nomor 7. Ia memiliki kumis dari kapas dan palu sidang dari sendok takar.
“Saudara-saudara apoteker,” katanya, “kami menuduh manusia telah terlalu sering melupakan kalian.”
Para apoteker saling memandang. Mereka tidak segera membantah. Mereka tahu, dalam banyak hal, tuduhan itu tidak sepenuhnya salah.
“Namun,” lanjut Kapsul Nomor 7, “kami juga mendengar bahwa kalian sering bekerja tanpa meminta tepuk tangan. Apakah benar?”
Seorang apoteker rumah sakit mengangkat tangan.
“Entahlah,” katanya. “Kami hanya berusaha memastikan obat yang tepat diberikan kepada pasien yang tepat, dengan cara dan waktu yang tepat. Kalau itu dianggap sebagai sesuatu yang besar, kami berterima kasih. Tetapi bagi kami, itu adalah tanggung jawab.”
Mendengar jawaban itu, seluruh obat di Bulan menjadi diam. Bahkan sirup batuk berhenti menggelegak.
Kemudian apoteker dari puskesmas berdiri. Ia bercerita bahwa pekerjaannya tidak selalu terlihat seperti adegan besar. Kadang-kadang pekerjaannya adalah menjelaskan dengan sabar mengapa antibiotik tidak boleh diminum sembarangan. Kadang ia harus memastikan obat tersedia ketika jarak, cuaca, dan keterbatasan membuat semuanya terasa sulit. Kadang ia harus mendengarkan keluhan seseorang yang datang bukan hanya membawa resep, melainkan juga kecemasan.
“Kami tidak selalu bisa menyelesaikan semua masalah,” katanya. “Tetapi kami berusaha agar tidak menambah masalah.”
Kalimat itu membuat Bulan bergetar sedikit. Bumi mengira terjadi gempa, padahal Bulan sedang menahan haru.
Lalu apoteker dari apotek berbicara. Ia berkata bahwa di balik meja pelayanan, ada banyak perjumpaan singkat yang sebenarnya tidak pernah benar-benar singkat. Seseorang datang bertanya tentang cara minum obat. Orang lain datang dengan mata cemas karena membaca terlalu banyak informasi di internet. Ada orang tua yang lupa nama obatnya, tetapi ingat warna kemasannya. Ada pasien yang hanya ingin diyakinkan bahwa pertanyaannya tidak merepotkan.
“Menjawab pertanyaan adalah bagian dari pekerjaan kami,” ujarnya. “Namun mendengarkan dengan hormat juga bagian dari tanggung jawab itu.”
Di sisi lain ruangan, sebuah tablet antasida menangis pelan.
Apoteker bidang distribusi kemudian menunjukkan peta yang sangat panjang. Peta itu membentang dari gudang hingga pelosok. Ia menjelaskan bahwa obat tidak cukup hanya dibuat. Obat harus disimpan dengan benar, dikirim dalam kondisi yang sesuai, dilacak, dan tiba sebelum terlambat. Ia berbicara tentang suhu, pencatatan, ketepatan, dan banyak hal yang terdengar biasa sampai seseorang menyadari bahwa satu kesalahan kecil dapat memengaruhi banyak orang.
“Gudang yang tertata mungkin tidak menjadi berita,” katanya. “Tetapi ketertiban itu adalah bentuk kepedulian yang berjalan diam-diam.”
Kemudian apoteker dari pabrik obat maju. Ia tidak membawa pidato. Ia membawa selembar hasil pemeriksaan mutu.
“Kami memeriksa bahan,” katanya. “Kami memeriksa proses. Kami memeriksa hasil. Kami memeriksa lagi ketika semua orang mengira pemeriksaan sudah cukup. Bukan karena kami menganggap diri paling pintar, tetapi karena obat harus dapat dipercaya.”
Mendengar kata dipercaya, obat-obatan mulai saling berbisik. Mereka baru menyadari bahwa selama ini para apoteker bukan sekadar menjaga mereka dari debu dan panas. Para apoteker menjaga agar keberadaan mereka tidak berubah menjadi janji kosong.
Ketua sidang mengetukkan sendok takarnya.
“Lalu mengapa kalian tidak meminta penghargaan yang lebih besar?”
Kali ini seorang apoteker muda menjawab. Ia bekerja di laboratorium, tetapi juga mengajar mahasiswa pada sore hari.
“Mungkin kami tetap membutuhkan penghargaan,” katanya. “Kami juga manusia. Kami bisa lelah, bisa kecewa, dan bisa berharap didengar. Tetapi penghargaan paling penting bagi kami adalah ketika masyarakat menggunakan obat secara aman, bertanya tanpa takut, dan percaya bahwa kesehatan bukan tempat untuk coba-coba.”
Ia berhenti sebentar.
“Kalau ada yang ingin mengucapkan terima kasih, kami menerimanya dengan rendah hati. Kalau ada yang ingin memahami profesi kami, kami akan berusaha menjelaskan. Kami tidak datang untuk menjadi pahlawan. Kami hanya ingin pekerjaan yang kami lakukan membantu seseorang pulang dengan lebih tenang.”
Pada saat itu, sesuatu yang sangat absurd terjadi. Seluruh obat di Bulan berdiri dan membungkuk kepada para apoteker.
Suntikan menundukkan jarum. Salep menutup tutupnya. Tablet bersalut mengilapkan permukaannya. Bahkan obat yang biasanya pahit berusaha tersenyum, meskipun hasilnya tampak seperti retakan pada batu.
Yang Mulia Kapsul Nomor 7 membaca keputusan sidang.
“Dengan ini, seluruh obat di dunia dinyatakan bersalah karena mengundurkan diri tanpa prosedur yang benar. Namun, berdasarkan kesaksian para apoteker, kami juga mengakui bahwa manusia sering lupa kepada orang-orang yang menjaga kami tetap aman. Oleh karena itu, kami bersedia kembali bekerja dengan satu syarat.”
“Apakah syaratnya?” tanya seorang apoteker.
“Setiap tanggal 25 September, manusia wajib berhenti sejenak dan mengingat bahwa kesehatan bukan hanya tentang obat yang diminum. Kesehatan juga tentang pengetahuan, ketelitian, komunikasi, etika, sistem, dan orang-orang yang menjalankan semuanya dengan tekun.”
Para apoteker mengangguk. Mereka tidak meminta patung. Mereka tidak meminta nama jalan. Mereka bahkan tidak meminta pesta besar. Mereka hanya meminta agar masyarakat tidak menganggap pekerjaan mereka sebagai sesuatu yang otomatis ada, seperti udara atau sinyal telepon.
Sebelum pulang ke Bumi, seorang anak kecil yang sejak tadi ikut menyaksikan sidang bertanya kepada apoteker rumah sakit, “Apakah semua apoteker bekerja di apotek?”
Apoteker itu tersenyum.
“Tidak,” jawabnya. “Ada yang bekerja di rumah sakit. Ada yang berada di puskesmas. Ada yang melayani di apotek. Ada yang memastikan obat sampai melalui distribusi. Ada yang bekerja di pabrik, laboratorium, lembaga pendidikan, penelitian, pemerintahan, dan banyak tempat lain. Tempatnya berbeda, tetapi kehati-hatian dan kepeduliannya tetap penting.”
“Kalau begitu,” kata anak itu, “apoteker bekerja di mana-mana?”
“Barangkali,” jawab sang apoteker, “apoteker bekerja di mana pun obat dan manusia membutuhkan pengetahuan yang bertanggung jawab.”
Hari itu, obat-obatan kembali ke rak, gudang, ambulans, lemari pendingin, ruang operasi, laboratorium, dan rumah-rumah. Mereka tidak lagi mengundurkan diri. Namun sejak saat itu, setiap kali seseorang mengambil obat dengan sembarangan, sebuah kapsul kecil akan berdeham dari dalam kemasan.
“Baca dulu petunjuknya,” katanya.
Dan setiap kali seseorang ragu bertanya kepada apoteker, seluruh obat di dunia akan memberi jalan.
Sebab mereka telah belajar satu hal di sidang Bulan: yang membuat obat menjadi bagian dari pelayanan kesehatan bukan hanya zat di dalamnya, melainkan juga manusia yang memastikan obat itu digunakan dengan tepat, aman, dan penuh pertimbangan.
Maka, pada Hari Apoteker Sedunia ini, mari kita mengucapkan terima kasih tanpa berlebihan dan tanpa menempatkan siapa pun di atas siapa pun. Terima kasih kepada para apoteker di rumah sakit, puskesmas, apotek, distribusi, pabrik obat, laboratorium, kampus, lembaga penelitian, pemerintahan, dan tempat kerja lain yang mungkin tidak kami kenali satu per satu.
Terima kasih karena telah menjaga banyak hal yang sering tidak terlihat. Terima kasih karena telah bersedia menjelaskan ketika kami terburu-buru. Terima kasih karena tetap teliti ketika pekerjaan terasa berulang. Terima kasih karena mengingatkan bahwa obat bukan sekadar barang, melainkan amanah yang menyentuh kehidupan manusia.
Kami mungkin tidak selalu tahu nama Anda. Kami mungkin tidak selalu melihat panjangnya proses di belakang sebuah obat. Namun bukan berarti kerja Anda tidak berarti.
Barangkali, jika dunia benar-benar kehabisan kata-kata, pada 25 September nanti Bulan akan kembali membuka sidang. Kali ini bukan untuk menuntut siapa pun, melainkan untuk membacakan satu keputusan sederhana:
Para apoteker tidak harus menjadi pahlawan agar layak dihargai. Cukup terus bekerja dengan ilmu, ketelitian, kerendahan hati, dan kepedulian. Dunia akan belajar melihatnya, sedikit demi sedikit.
Selamat Hari Apoteker Sedunia. Semoga para apoteker di mana pun berada selalu diberi kesehatan, kekuatan, perlindungan, dan ruang untuk bekerja dengan baik. Kami menghormati profesi Anda bukan karena Anda tidak pernah lelah, melainkan karena di tengah kelelahan itu Anda tetap berusaha menjaga keselamatan orang lain.
Catatan: Kisah ini adalah fiksi absurd. Tokoh, kejadian, dan percakapannya sengaja dibuat tidak masuk akal, tetapi penghormatannya kepada para apoteker adalah sungguh-sungguh đź«°


